DaerahMinahasa SelatanSulawesi Utara

FAKTA UNIK DAN JEJAK SEJARAH TUMANI RAYA: Tiga Desa, Satu Jiwa Kebersamaan

260
×

FAKTA UNIK DAN JEJAK SEJARAH TUMANI RAYA: Tiga Desa, Satu Jiwa Kebersamaan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260210 133733

Minsel, proexposnews.com -Desa Tumani Raya yang berada di bawah administrasi Kecamatan Maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan, menyimpan banyak fakta unik dan nilai historis yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakatnya.

Kawasan yang dikenal sebagai wilayah terpanjang di Kecamatan Maesaan ini bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kuat dalam menjaga ikatan sosial dan budaya.

Secara administratif, Kecamatan Maesaan sendiri merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Tompasobaru. Sementara itu, Tumani Raya pada awalnya adalah satu desa utuh yang kemudian dimekarkan menjadi tiga desa pada tahun 2010, yakni Desa Tumani, Desa Tumani Selatan, dan Desa Tumani Utara.

Meski telah terbagi secara pemerintahan, kehidupan sosial masyarakatnya tetap berjalan seolah masih satu kampung besar.
Sejak dahulu hingga kini, masyarakat Tumani Raya dikenal hidup rukun dan berdampingan.

Dalam berbagai momentum, baik suka maupun duka, aktivitas masyarakat ketiga desa masih dijalani secara bersama-sama. Kebersamaan tersebut menjadi ciri khas yang sulit ditemukan di banyak wilayah lain pasca pemekaran desa.

Mayoritas mata pencarian warga Tumani Raya adalah petani, yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Selain itu, terdapat pula pedagang, sopir, tukang, pengojek bentor (kendaraan roda tiga), hingga pegawai. Komoditas unggulan sektor pertanian meliputi cengkih, padi, dan kelapa, yang sejak lama menopang kehidupan warga dari generasi ke generasi.

Tak hanya dikenal sebagai desa agraris, masyarakat Tumani Raya juga memiliki reputasi sebagai “petarung penambang emas”. Di mana pun terdapat lokasi pertambangan emas, baik di dalam maupun luar Pulau Sulawesi, warga Tumani Raya kerap hadir untuk mengadu nasib dan mencari penghidupan. Jiwa perantau dan pekerja keras telah menjadi identitas yang melekat kuat.

Dari desa inilah pula lahir salah satu produk pertanian yang kini dikenal luas, yakni beras legen yang kemudian berkembang menjadi Beras Superwin. Beras berkualitas ini ditemukan oleh almarhum Win Mangowal, putra terbaik Tumani Raya, dan kini telah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.

Dalam aspek budaya, Tumani Raya memiliki tradisi unik yang masih lestari. Pada hari-hari besar seperti Tahun Baru dan perayaan Kuncikan, masyarakat menggelar lomba figuran atau yang dikenal dengan sebutan “kaceba”, yakni arak-arakan keliling kampung dengan nuansa hiburan dan kebersamaan yang meriah.

Peran pemuda juga sangat menonjol dalam perjalanan sosial desa ini. Sejak dulu, pemuda dari ketiga desa dikenal aktif dalam kegiatan positif, baik di bidang olahraga seperti sepak bola, maupun dalam kesenian dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Dalam kehidupan bergereja, partisipasi masyarakat Tumani Raya juga tergolong tinggi, mencerminkan kuatnya nilai iman dan solidaritas.

Hingga saat ini, budaya gotong royong atau Mapalus masih terus dipraktikkan. Nilai saling membantu dan bekerja bersama tetap menjadi fondasi kehidupan masyarakat, sekaligus warisan budaya Minahasa yang dijaga dengan penuh kesadaran.

Saat ini, Tumani Raya dipimpin oleh putra-putri terbaik desa yang dipercaya masyarakat untuk melanjutkan roda pemerintahan dan pembangunan. Mereka adalah Meike Lombogia sebagai Hukum Tua Tumani Selatan, Fesna Assa sebagai Hukum Tua Tumani, dan Andrew Kawengian sebagai Hukum Tua Tumani Utara.

Dengan sejarah panjang, budaya kuat, dan semangat kebersamaan yang tetap terjaga, Tumani Raya menjadi contoh nyata bahwa pemekaran wilayah tidak harus memudarkan persatuan. Tiga desa boleh berdiri, namun satu jiwa dan identitas tetap hidup di Tumani Raya. (Pro)