BudayaDaerahManadoMinahasaPendidikanSulawesi Utara

Kalelon-Makaaruyen” Diluncurkan, Ruang Kritis Budaya dan Politik Menggema di Manado

241
×

Kalelon-Makaaruyen” Diluncurkan, Ruang Kritis Budaya dan Politik Menggema di Manado

Sebarkan artikel ini
IMG 20260322 WA0039

Manado,proexposnews.com – Sabtu, 21 Maret. Senja di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Utara tak sekadar menutup hari, tetapi justru membuka ruang dialog yang hidup. Diskusi publik sekaligus peluncuran buku Kalelon-Makaaruyen: Teori dan Filosofi menjelma menjadi peristiwa kultural yang hangat, reflektif, dan menggugah kesadaran.

Di tengah alunan musikalisasi puisi, para peserta berdatangan dengan membawa pertanyaan, keresahan, dan harapan terkait masa depan budaya dan politik daerah. Suasana yang tercipta bukan hanya ruang mendengar, melainkan ruang partisipasi aktif.

Peluncuran buku karya Swadi Sual menjadi salah satu momen penting. Buku ini tidak sekadar hadir sebagai karya tulis, tetapi menawarkan cara pandang baru tentang relasi antara manusia, budaya, dan realitas sosial yang saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari.

Memasuki sesi utama, diskusi bertajuk “Budaya dan Bahasa Politik Daerah” dipandu oleh moderator Endosoren. Forum ini menghadirkan sejumlah pemantik, yakni Satryano Pangkey, Kharisma Kurama, Kalfein Wuisan, dan Refli Sanggel.

Para pemateri menyoroti bahwa budaya dan bahasa dalam politik tidak pernah sepenuhnya netral. Dalam praktiknya, keduanya kerap menjadi instrumen kekuasaan—membentuk persepsi publik, menyembunyikan kepentingan, bahkan mengaburkan kebenaran.

Isu penetapan Peraturan Daerah RTRW Sulawesi Utara menjadi salah satu bahasan yang paling menyita perhatian. Para narasumber mengingatkan pentingnya membaca kebijakan secara kritis, terutama di balik bahasa formal yang kerap terdengar normatif. Publik diajak untuk menggali makna, menilai dampak, serta mempertanyakan pihak-pihak yang diuntungkan.

Diskusi pun berkembang dinamis. Peserta aktif menyampaikan pandangan, bahkan saling menguji argumen, namun tetap dalam koridor dialog yang sehat. Forum ini menunjukkan praktik demokrasi yang hidup di mana ruang diskusi menjadi wadah pertukaran gagasan secara terbuka.

Menariknya, kegiatan ini tidak terjebak dalam suasana formal semata. Musik akustik, pembacaan puisi, hingga pertunjukan teater turut hadir sebagai penyeimbang, menegaskan bahwa kebudayaan bukan hanya untuk dipikirkan, tetapi juga dirasakan dan diekspresikan.

Digelar bertepatan dengan Hari Puisi Sedunia dan Hari Hutan Sedunia, acara ini menyatukan dua kesadaran penting: menjaga bahasa dan merawat alam.

Diskusi menegaskan bahwa kerusakan lingkungan turut berimplikasi pada tergerusnya nilai-nilai budaya yang hidup di dalamnya.

Lebih dari sekadar diskusi dan peluncuran buku, kegiatan ini menjadi penanda bahwa ruang-ruang kritis yang jujur masih ada dan terus bertumbuh. Ruang di mana masyarakat dapat berpikir kritis, berbicara terbuka, serta merawat ingatan kolektif.

Di tengah riuhnya arus digital yang kerap bising tanpa arah, malam itu di Manado, percakapan justru menemukan kembali maknanya. (***)