Mahasiswa UNSRAT Gelar Diskusi Kritis MBG, Soroti Militerisasi serta Dampak terhadap Gizi dan Hak Atas Pendidikan
Manado, 8 April 2026 — Commune UNSRAT berkolaborasi dengan Lembaga Advokasi Mahasiswa (LAM) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) menggelar diskusi terbuka pada Rabu (8/4) pukul 17.00 WITA. Kegiatan ini berlangsung santai di area DPR kampus, tepatnya di bawah pohon rindang yang kerap menjadi ruang berkumpul mahasiswa.
Diskusi ini menghadirkan Engel Rasubala, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), sebagai pemantik. Dalam suasana yang cair namun penuh gagasan kritis, Engel mengajak peserta melihat MBG bukan sekadar kebijakan di atas kertas, tetapi sebagai sesuatu yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, ia menilai MBG masih menyimpan sejumlah persoalan penting. Salah satu yang disoroti adalah potensi ketimpangan akses. Engel menekankan bahwa kesehatan publik selalu berkaitan dengan keadilan—siapa yang mendapat manfaat, dan siapa yang justru tertinggal. Jika implementasi MBG tidak sensitif terhadap kondisi kelompok rentan, maka kebijakan ini berisiko memperlebar jurang ketimpangan.
Ia juga mengkritisi pendekatan MBG yang dinilai belum sepenuhnya berbasis bukti ilmiah. Dalam ilmu kesehatan masyarakat, setiap kebijakan idealnya disusun melalui kajian yang matang—mulai dari analisis data, pemetaan risiko, hingga memahami faktor sosial seperti ekonomi, lingkungan, dan pendidikan. Tanpa itu, kebijakan bisa saja berjalan, tetapi dampaknya belum tentu tepat sasaran.
Selain aspek fisik, diskusi juga menyinggung dimensi kesehatan mental. Kebijakan yang minim partisipasi publik, menurut Engel, dapat menimbulkan rasa tidak dilibatkan, bahkan tekanan psikologis di tengah masyarakat. Hal-hal seperti ini sering luput dari perhatian, padahal efeknya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, diskusi ini tidak berhenti pada satu sudut pandang. Mahasiswa dari berbagai fakultas turut menyumbangkan perspektif—mulai dari sosial, hukum, hingga ekonomi—yang memperlihatkan bahwa MBG memang perlu dilihat secara interdisipliner, bukan parsial.
Dengan suasana yang terbuka dan egaliter, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama sekaligus refleksi kritis bagi mahasiswa UNSRAT. Commune UNSRAT dan LAM berharap diskusi seperti ini terus hidup sebagai bagian dari tradisi akademik yang tidak hanya aktif berpikir, tetapi juga peka terhadap realitas sosial.


