BudayaDaerahManadoMinahasaSulawesi Utara

Identitas Tak Lekang Popularitas, Armando Pertahankan Bahasa Tontemboan di Era Digital

1023
×

Identitas Tak Lekang Popularitas, Armando Pertahankan Bahasa Tontemboan di Era Digital

Sebarkan artikel ini
file 0000000094a082119693654efd9e5f77

Minahasa, proexposnews.com – Kesuksesan berkarier di industri perfilman Indonesia tak membuat Armando Gerry Waworuntu melupakan daerah asalnya. Aktor muda kelahiran 1997, yang memiliki akar keluarga dari Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara, ini justru memilih menjadikan media sosial sebagai ruang untuk terus membawa identitas daerahnya.

Armando dikenal sebagai salah satu aktor asal Manado yang telah terlibat dalam sejumlah karya perfilman Indonesia. Di tengah kesibukannya meniti karier di ibu kota, ia tetap menunjukkan kecintaannya terhadap daerah asal melalui berbagai konten yang dibagikan di media sosial.

Menariknya, konten Armando tidak hanya berkutat pada dunia hiburan. Pria yang dikenal memiliki hobi bergaya fashion ini kerap menghadirkan konten lucu, motivasi, hingga menyelipkan penggunaan bahasa daerah Tontemboan Minahasa dan ungkapan-ungkapan khas Sulawesi Utara.

Hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik di tengah perkembangan zaman, ketika sebagian generasi muda justru semakin jauh dari bahasa dan budaya daerahnya sendiri.

Bagi Armando, membawa bahasa daerah ke dalam konten bukan sekadar gaya atau bahan hiburan. Ada pesan yang ingin ia sampaikan, khususnya kepada generasi muda agar tidak kehilangan identitas budaya di tengah derasnya pengaruh perkembangan zaman.

Ia menilai, bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Minahasa yang perlu terus diwariskan. Terlebih, saat ini tidak sedikit anak muda yang mulai asing dengan bahasa daerah, bahkan tidak memahami secara tepat makna sejumlah ungkapan yang menjadi bagian dari filosofi hidup masyarakat Minahasa.

Salah satunya adalah falsafah “Sitou Timou Tumou Tou”, yang secara luas dimaknai sebagai manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.

“Kondisi tersebut patut menjadi perhatian bersama. Kemajuan zaman, menurut saya, tidak seharusnya membuat generasi muda meninggalkan akar budaya yang membentuk identitas mereka,” ungkapnya kepada wartawan media ini, Kamis (03/09/2026).

Apa yang dilakukan Armando menjadi semakin menarik karena dirinya kini berkarier di industri hiburan nasional dengan lingkungan pergaulan yang begitu luas dan modern.

Di tengah kesempatan untuk membangun citra sebagai aktor di ibu kota, ia justru tetap membawa identitas sebagai putra daerah.

Tidak sedikit anak muda yang ketika telah sukses atau berkarya jauh dari daerah asalnya perlahan kehilangan kedekatan dengan bahasa maupun budaya daerah. Bahkan, ada yang merasa kurang percaya diri menggunakan bahasa daerah di ruang publik.

Ia justru memanfaatkan popularitas dan media sosial untuk memperkenalkan kembali bahasa serta nilai-nilai budaya Minahasa melalui cara yang ringan, kreatif dan dekat dengan generasi muda.

Konten-konten bernuansa humor dan motivasi yang diselipkan bahasa daerah menjadi salah satu cara Armando menjembatani budaya lokal dengan karakter generasi digital.

Baginya, melestarikan bahasa daerah tidak harus selalu dilakukan melalui cara-cara formal. Media sosial juga dapat menjadi ruang efektif untuk membuat bahasa daerah tetap hidup, dikenal dan digunakan oleh generasi berikutnya.

Armando menyayangkan apabila bahasa daerah pada akhirnya hanya menjadi bagian dari sejarah karena generasi penerus tidak lagi mengenal atau menggunakannya.

Menurutnya, kehilangan bahasa daerah bukan hanya kehilangan kosakata, tetapi juga berpotensi kehilangan sebagian dari identitas dan nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

Karena itu, ia berharap generasi muda, khususnya anak-anak muda Minahasa yang berada di berbagai daerah, tidak merasa malu membawa identitas daerahnya.

Kesuksesan di luar daerah, menurutnya, tidak harus menjadi alasan untuk meninggalkan tempat dari mana seseorang berasal.

Justru sebaliknya, semakin jauh seseorang melangkah, semakin penting untuk tetap mengingat akar yang membentuk dirinya.

Di tengah derasnya perkembangan industri hiburan dan budaya populer, langkah Armando Gerry Waworuntu menjadi contoh bahwa menjadi modern tidak berarti harus kehilangan identitas.

Dari Langowan, Minahasa, menuju panggung perfilman Indonesia, Armando seolah ingin menunjukkan bahwa akar budaya tidak harus ditinggalkan untuk meraih kesuksesan.

Sebab, bagi generasi muda Minahasa, melestarikan bahasa daerah bukan sekadar mempertahankan kata-kata lama, tetapi menjaga identitas agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Pro)